Definisi I’rob Menurut Bapak Nahwu Ibn Ajarrum al-Sanhaji

📑 DEFINISI I’ROB [*]

Berkata Ibnu Ājurrūm rahimahullah:

”الإعرابُ هوَ تغييرُ أواخِرِ الكَلِمِ لاختلافِ العَوامِلِ الدَّاخلَةِ عَليهَا لفظًا أو تقديرًا”

“I’rob adalah perubahan keadaan akhir-akhir kata karena perbedaan ‘amil-‘amil yang masuk pada kata tersebut, baik perubahan itu secara lafazh atau ditakdirkan.”

Untuk memudahkan dalam mendefinisikan apa itu i’rob kita coba sebutkan menjadi 3 bagian:

1⃣ اَلْإِعْرَابُ هُوَ تَغْيِيرُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ
(I’rob adalah perubahan keadaan akhir-akhir kata)

Perubahan akhir-akhir kata yang dibahas dalam i’rob ini hanya 2, yakni pada:
● Isim, dan
● Fi’il mudhori’.

🔎 Perhatikan contoh perubahan pada isim:

– حَضَرَ زَيْدٌ
(Telah hadir Zaid)

– رَأَيْتُ زَيْدً
(Aku melihat Zaid)

– مَرَرْتُ بِزَيْدٍ
(Aku melewati Zaid)

→→→ Perhatikan kata:
زَيْدٌ، زَيْدً، زَيْدٍ

Perubahan keadaan akhir-akhir kata tersebut dari dhammah ke fathah, dari fathah ke kasrah, itulah i’rob.

🔎 Sekarang perhatikan contoh perubahan pada fi’il mudhori:

– يَخْرُجُ مُحَمَّدٌ
(Muhammad sedang keluar)

– لَنْ يَخْرُجَ مُحَمَّدٌ
(Muhammad tidak akan keluar)

– لَمْ يَخْرُجْ مُحَمَّدٌ
(Muhammad belum keluar)

→→→ Perhatikan kata:
يَخْرُجُ، يَخْرُجَ، يَخْرُجْ

Perubahan keadaan akhir-akhir kata (dari dhammah ke fathah, dari fathah ke sukun) itulah i’rob.

📎 Kenapa akhir-akhir kata tersebut berubah-ubah? Kita masuk ke bagian kedua.

2⃣ لِاخْتِلاَفِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا
(Karena perbedaan ‘amil-‘amil** yang masuk pada kata tersebut)

🔎 Perhatikan contoh berikut:

– كَتَبَ حَامِدٌ
(Hamid telah menulis)

✒ Kenapa حَامِدٌ akhir katanya —ٌ (didhommah/rofa’) ?
» Karena ‘amil yang masuk padanya, yaitu fi’il (كتب ) menuntut ٌحامد sebagai fa’il (subyek)nya.

– ضَرَبَ خالدٌ حَامِدً
(Kholid telah memukul Hamid)

✒ Kenapa حَامِدً akhir katanya —ً (difathah/nashob) ?
» Karena adanya ‘amil ضَرَبَ خَالِدٌ, yang menuntut Hamid sebagai objek yang dikenai pukulan, dalam istilah ilmu nahwu disebut maf’ūlun bihi (مفعول به), yang namanya maf’ūlun bihi kaidanya harus nashob/fathah.

– مَرَرْتُ بِحَامِدٍ
(Aku melewati Hamid)

✒ Kenapa حَامِدٍ akhir katanya —ٍ (dikasroh/majrur) ?
» Karena adanya ‘amil, yaitu huruf jar ب yang masuk padanya, sehingga men-jar-kan (mengkasrohkan) kata setelahnya.

Semoga sampai bagian kedua ini bisa difahami. Setelah itu kita masuk ke bagian ketiga.

3⃣ لَفْظًا أَوْ تَقْدِيْرًا
(Perubahan akhir kata tersebut baik secara lafazh atau ditakdirkan saja)

🔎 Perhatikan contoh berikut:

– جَآءَ مُوْسَى
(Telah datang Musa)

– رَأَيْتُ مُوْسَى
(Aku melihat Musa)

– مَرَرْتُ بِمُوْسَى
(Aku melewati Musa)

✏ Kenapa pada contoh kata مُوْسَى tetap tidak berubah akhir katanya, tidak seperti kata زَيْدٌ، زَيْدً، زَيْدٍ ?

Karena alif tidak bisa diharokati selamanya (تَعَذُّر). Pada hakikatnya kata Musa (مُوْسَى) tersebut mengalami perubahan tetapi perubahannya ditakdirkan saja/diniatkan saja.

—————
[*] Dalam istilah i’rob kita akan terus berulang-berulang dan sering mendengar istilah:
– Akhir kata rofa’ (رَفْعٌ) maksudnya akhir katanya dhommah atau penggantinya.
– Akhir kata nashob (نَصْبٌ) maksudnya akhir katanya fathah atau penggantinya.
– Akhir kata majrur (مَجْرُوْرٌ) maksudnya akhir katanya kasroh/jar atau penggantinya.
– Akhir kata jazm (جَزْمٌ) maksudnya akhir katanya sukun atau penggantinya

[**] ‘Amil adalah penyebab akhir kata itu rofa’, nashob, majrur atau jazm.

Semoga bermanfaat. Baarokallaahu fiikum.

[🔊] Silahkan diulang-ulang kembali audionya.

📝 al-Ajurrumiyyah
📟 Channel Telegram: t.me/nahwu_alajurrumiyyah

▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫ sunatullah.com ▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫