Aug
Nabi Khidir. Apakah Masih Hidup?
Banyak kisah-kisah tentang Nabi Khidir yang ramai dibicarakan orang, banyak kontroversi tentang kemunculannya, sehingga hal itu mendorong rasa ingin tahu tentang hakikat sebenarnya. Ada yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarang berdiam di sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi Khidir rutin mengunjungi padang Arafah. Entah khidir siapa dan yang mana? Tapi yang jelas begitulah khurafat dan takhayyul berkembang di tengah masyarakat kita. Lucunya, banyak pula orang-orang yang sangat mempercayai perkara-perkara tersebut.
Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat dan tasawwuf yang membumbui berbagai macam dongeng dan cerita bohong tentang Khidir. Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telah bertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang mengaku telah bertemu dengan Khidir dan mengambil bacaan-bacaan shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidir secara langsung, tanpa perantara, atau melalui mimpi. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan batil!!
Mengenai hidup atau wafatnya Khidir, orang-orang berselisih. Ada yang menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupun nash yang shahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan ia telah meninggal.
Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia.
Al-Allamah Ibnul Jauziy-rahimahullah- berkata, “Dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Khidir sudah tidak ada di dunia adalah empat perkara; Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ (kesepakatan) ulama’ muhaqqiqin, dan dalil aqliy”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 69)]
Di antaranya dalil-dalil itu:
Allah -Ta’ala- berfirman, yang artinya :
“Kami tidak menjadikan kehidupan abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal”. (QS.Al-Anbiya`: 34)
Imam Abul Faraj Abdur Rahman Ibnul Jauzy-rahimahullah- berkata, “Khidhir, jika dia itu seorang manusia, maka sungguh ia telah masuk dalam keumuman (ayat) ini tanpa ada keraguan. Seorang tidak boleh mengkhususkannya dari keumuman itu, kecuali dengan dalil yang shahih”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif]
Kemudian Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir-rahimahullah- menguatkan ucapan Ibnul Jauziy tadi seraya berkata, “Asalnya memang tidak boleh mengkhususkannya sampai dalil telah nyata. Sementara tidak disebutkan adanya dalil yang mengkhususkannya dari seorang yang ma’shum yang wajib diterima”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif ]
Allah -Azza wa Jalla- berfirman, yang artinya :
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab,“Kami mengakui”. Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Al-Imran: 81)
Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata saat menafsirkan ayat ini, “Allah tidak mengutus seorang nabi di antara para nabi, kecuali Dia mengambil perjanjian padanya. Jika Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam- sedang nabi itu hidup-, maka ia (nabi itu) betul-betul harus beriman kepada beliau, dan menolongnya”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (1/565)]
Jika Khidir masih hidup, tentunya ia tidak boleh menunda-nunda keimanannya kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Ia harus mengikuti Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, berjihad bersamanya dan menyampaikan dakwah beliau. Ini merupakan perjanjian Allah kepada seluruh para nabi dan rasul sebagaimana yang tersebut dalam QS. Al-Imran ayat 81 di atas.
Ini menunjukkan kepada kita bahwa wajib bagi seorang nabi dan rasul untuk menolong dan beriman kepada Rasulullah Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menegaskan bahwa andaikan Nabi Musa -’alaihis salam-, yang jauh lebih mulia dari Nabi Khidir masih hidup, maka ia harus mengikuti Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- .
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Andaikan Musa hidup, tentunya tidak mungkin baginya, kecuali harus mengikutiku”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/387), Ad-Darimiy dalam As-Sunan (1/115), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (5/2), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-Ilm (2/42), dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (1589)]
Sudah dimaklumi, tidak ada satu pun riwayat shahih ataupun hasan -yang dapat membuat jiwa tenang- menyebutkan bahwa Khidir pernah bertemu dengan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pula pernah ikut bersama Rasulullah dalam berbagai peperangan.
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Tidak ada satu jiwa pun yang hidup pada hari ini telah lewat 100 tahun, sedang ia hidup pada hari itu”. [HR. Muslim dalam Shahih- nya (4/1966)]
Allamah Ibnu Baththal-rahimahullah- berkata menerangkan makna hadits ini, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memaksudkan bahwa dalam jangka waktu ini suatu generasi telah punah”. [Lihat Fathul Bari (1/256) karya Al-Hafizh Ibnu Hajar]
Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah- berkata dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (11/41), “Sesungguhnya hadits ini termasuk dalil yang memutuskan tentang kematian Nabi Khidir sekarang”.
Andaikan Nabi Khidir masih hidup, tentu ia akan datang kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk menyatakan keislamannya dan akan menolong beliau dalam berdakwah dan berperang membela Islam. Tidak mungkin ada seorang Nabi pun yang masih hidup, lantas tidak datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk berbai’at, menyatakan keislamannya, dan berjihad bersama beliau.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Jihad, Bab: Al-Imdad bil Mala’ikah fi Ghazwah Badr (3/1383)]
Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy-rahimahullah- berkata ketika ditanya tentang hadits di atas, “Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-). Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir pada saat itu?” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 68)]
Adapun dalil-dalil berupa hadits-hadits marfu’, dan mauquf yang menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini, maka hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).
Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy -rahimahullah- berkata, “Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/199) dan Ruh Al-Ma’aniy (15/321) karya Al-Alusiy]
Ibnul Munadiy berkata,“Aku telah mengadakan riset tentang hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karena hadits-hadits (lemah) yang dirwayatkan dalam hal tersebut”. [Lihat Az-Zahr (hal. 38)]
Ibnul Jauziy setelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi Khidir berkata, “Hadits-hadits ini adalah batil”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/195-197)]
Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, “Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya, semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang hidupnya Nabi Khidir”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 67)]
Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir, “Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334)]
Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy-rahimahullah- berkata, “Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah kisahkan tentang berita keduanya. Semua berita tentang hidupnya tak ada yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits (ahli hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di sisi para ahli hadits”. [Lihat Az-Zahr An-Nadhir (hal. 32)]
Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal. Nyatalah kebatilan orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidir untuk menerima ajaran di luar ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad -Shalallahu ‘alaihi wasallam-??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia. [ MI ]
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 22 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

I love this artikel.
Bang Rohut, are your smarter than a 5th grader
?




November 3rd, 2008 at 12:50 am
artikel anda sedikit banyak sudah membantu saya untuk bisa memahami tentang khidir…yang perlu penulis ketahui saya punya saudara yang menurut saya aneh????beliau sering menceritakan bisa bertemu nabi khidir entah itu lewat kasat mata atau tidak…yang jadi pertanyaan mungkinkah orang bisa menjumpai seorang nabi meski itu hanya lewat mimpi??bagaimana membuktikan bahwa di mimpi itu nabi sebenarnya???
November 18th, 2008 at 3:28 pm
Artikel anda sangatlah menarik.
Namun, ada baiknya bilamana kita menyadari bahwa, kemampuan kita sebagai manusia sangatlah terbatas.
Allah dan Rasulnya lebih tahu tentang hal yang Gaib.
Janganlah dipertentangkan mengenai Mati atau tidaknya Nabi Khidir. Kita tidak diberikan ilmu oleh Allah melainkan SANGAT SEDIKIT… !
Astagfirullah….
January 24th, 2009 at 11:28 am
Artikelnya telah menambah wawasan bagi saya. walaupun pertanyaan utama yang ada dalam pikiran saya belum lah terjawab. dari banyak artikel yang saya baca…kelompok yang menyatakan bahwa nabi khidir telah meninggal (jangan gunakan kata mati), mengatakan bahwa ajaran yang disampaikannya saat ini oleh orang-orang yang meyakini beliau masih hidup bukan ajaran yang disampaikan oleh Nabi besar Muhammad SAW. Saya mengalami peristiwa yang membuat saya selalu bertanya-tanya dan terus mencari jawaban yang akan menenangkan jiwa saya…Saya sangat mengenal dekat kelompok orang-orang yang meyakini bahwa nabi khidir masih hidup. Mereka meyakini guru mereka adalah nabi khidir. Nabi khidir (guru mereka) mengajari Al-Quran dan As Sunnah..mengkaji ayat-ayat Al Quran dan juga mengimami Nabi Besar Muhammad SAW. ajarannya tidak ada yang menyimpang. Mereka shalat 5 waktu, puasa pada bulan ramadhan, tidak melakukan tawasul, tidak melakukan tahlilan, para murid disana memahami Al Quran dengan baik dan mendalam. yang membuat saya ragu dan masih bertanya-tanya adalah saat kehadiran beliau, beliau hadir tidak dalam wujud kasad tapi “meminjam” tubuh salah seorang muridnya.
“Ya Allah tunjukkanlah saya jalan yang benar, Jika Nabi khidir benar masih hidup berilah saya petunjuk dan saya akan berguru kepada beliau”
March 25th, 2009 at 2:06 pm
ingat lagi tentang 3 perkara yang tidak akan terputus setelah manusia wafat.sesungguhnya janji allah adalah nyata. jadi memang secara jasmani telah mati namun amal dan ilmunya masih tetap hidup. kalau menurut saya hal tersebut tidak perlu diributkan kita harus bersyukur jadi umat rosulullah saw. kalo seluruh umat dipadang masyar nanti diperbolehkan memilih , yakinlah mereka akan memilih menjadi umat rosulullah saw.makanya coba ente tanya tuh sama orang orang itu , kalo boleh pilih mau jadi umatnya siapa ente sekalian .
mungkin rekan sekalian belum jauh mengenal Muhammad saw yang sudah jelas Allah swt menjelaskan dalam firmannya bahwa panutan umat sepanjang zaman , jika rekan sudah tahu dan mengenal siapa Muhammad saw ,percayalah anda tidak akan mau berpaling terhadap tuntunan yang diajarkan Allah swt melaluinya. kalo saya boleh memilih saya pilih belajar dari Muhammad saw di banding khidir kalo keduanya masih hidup. walaupun Muhammad saw sudah wafat , tetap menjadi pilihan utama saya dalam menuntut ilmu.
jadi tetap berjalanlah lurus kedepan jangan sampai terjerumus dalam lembah kesyirikan karena sesungguhnya syirik adalah dosa yang sangat besar and hanya Allah yang bisa memaafkannya.
April 20th, 2009 at 10:45 am
beliau memang madih hidup, walaupun alamnya berbeda dengan manusia biasa seperti kita,entah sampai kapan beliau akan seperti itu?itu Allah yang mempunyai kuasa, beliau mendapatkan tugas dari Allah yang berbeda dibansingkan dengan utusan2 lainnya, tugas itu berkaitan dengan akhir zaman ini nantinya bagaimana, Insyaa Allah beliau salah satu hamba yang mengetahui rahasia itu, yang penting mari kita mendekatkan diri kepada Allah, “ojo dumeh (jangan mentang-mentang),eling lan waspodo ” itulah nasehat beliau….paham kan? mohon maaf bila ada salah…Wallahu a’lam”
May 1st, 2009 at 1:59 pm
amin. terimakasih atas komentarnya
May 17th, 2009 at 6:14 pm
Nabi hidir, tidak tepat kalau dia dikatakan seorang nabi lebih tepat kalau dia disebut seorang hamba yang saleh karena dialah yang membimbing para nabi sejak nabi adam sampai nabi muhammad, para wali-wali allah bahkan sampai akhir dinia ini dia masih ada, dialah mengawali dinia ini dan dia pula yang akan mengakhiri dunia ini. beliau sekarang sudah berada ditengah-tengah kita tetapi kita tidak bisa mengetahui kalau bukan dia sendi yang memberitahu, saya mengetagui beliau, dimana, ciri-cirinya,karakternya bahkan jati dirinya. permasalahannya saya tidak mampu membahasakan dengan kata-kata tentang siapa diri beliau. setiap kali saya ingin memulai mengetik di komputer seketika itu pula tangan sy bergetar. yang penting buat kita adalah kita meyakini bahwa beliau akan muncul dengan sendirinya dalam waktu yang tidak terlalu lama. bertaubatlah secepatnya karena kemunculannya akan menghancurkan segala bentuk kebatilan di muka bumi ini dan menggemparkan dunia, tidak akan ada yang mampu menghalangi keinginannya dan manusia pada umumnya tidak mau sadar kalau bukan alam yang menghukumnya maka tunggulah pembalasannya. sesudah itu terciptalah surga dunia. sampai jumpa dilain kesempatan.
May 18th, 2009 at 10:19 am
Saya juga pernah membaca satu hadits. Tidak tahu sahih atau bukan. Bahwa nanti ada org yang akan berhadapan dengan dajal, yang dipenggal lehernya terus disambung lagi. Lalu saat ingin dipenggal lagi tidak bisa/tidak sanggup. Itulah Nabi khidir. Tapi ya Wallahu alam. Terimakasih komentarnya. Apa benar anda bisa melihatnya?? Kl dia bukan nabi dan hanya Hamba yang saleh memang tidak ada kewajiban untuk mensyiarkan agama seperti layaknya nabi? Bisa dilanjutkan oleh anda?
July 2nd, 2009 at 10:53 am
Ass.wr.wb
Astagfirullah,Subhanallah wal hamdulillah wa la illa hailallah wallahu akbar……
Artikel anda menurut saya sangat menarik. Itu semua akan menambah wawasan kepada semua pihak yg telah membaca artikel anda khususnya saya pribadi. Saya adalah seorang yang masih dangkal dalam pemahaman segala hal, termasuk yg berhubungan dengan agama (Islam) yang saya anut. Arti disini adalah senantiasa berusaha dan berusaha untuk mengenal dan mengenal lebih jauh lagi tentang segala sesuatu yg tidak saya ketahui karena 4JJI lah yg mengetahui segala rahasia yg tersembunyi di alam semesta ini. Kita hanyalah manusia biasa yg hanya sedikit sekali di anugerahi akal. Kita tidak akan mampu untuk membuka semua tabir atau kerahasiaan yang terkandung dari sesuatu yg kita tidak tahu sebenarnya. Walaupun semua orang berhak untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing. Yang sangat saya khawatirkan yang terjadi saat ini adalah antara satu madzhab dengan madzhab yg lain saling menjelekkan (maaf kalau pendapat ini sedikit keluar jalur). Begitu juga pendapat satu kaum menjelekkan pendapat kaum yang lain. Walaupun sebetulnya kita sendiri tidak akan mengetahui kebenaran mana yg memang telah dibenarkan oleh sang Khalik yaitu 4JJI. ” Katakanlah, ‘Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kmu, dan hanya Kepada-Nya kami mengikhlaskan hati” (Q.S. Al Baqarah:139).
Perdebatan/perbedaan pendapatan yang terjadi alangkah baiknya dijadikan suatu tambahan ilmu bagi mereka yang belum mengetahuinya asalkan tidak menyebabkan suatu perpecahan diantara kita semua. Biarpun luas nya lautan tidak akan mampu untuk dijadikan pena untuk menulis semua kalimat 4JJI (kurang lebih seperti menurut salah satu hadits tp maaf saya lupa hadits dari siapa). Menurut saya pendapat sebagian orang yang mengatakan kalau Nabi Khidir a.s. telah meninggal bisa jadi “Ya” atau “Tidak”. Begitu juga sebaliknya sebagian pendapat ada yang mengatakan kalau Nabi Khidir belum meninggal itu juga bisa “Ya” atau “Tidak”, karena kita semua hanya diberi ilmu sangat sedikit untuk bisa mencari jawabannya. Saya hanya bisa berkomentar alangkah berbahagianya orang yang telah bertemu dengan Nabi Khidir. Dan alangkah SANGAT berbahagia nya orang yang telah bertemu dengan panutan kita semua Nabi Muhammad SAW, yaitu para sahabatnya, keluarganya dan umatnya yang hidup di masa beliau. Semoga kita semua senantiasa diberikan jalan lurus,jalan yang senantiasa di ridhoi oleh 4JJI SWT dan semoga kita senantiasa diberi syafa’at oleh Nabi Muhammad SAW. Amien. Kepada rekan-rekan sekalian salam perkenalan dari saya. Mohon maaf yang sebesar-besar nya jika dalam komentar saya ini terdapat kesalah pahaman diantara rekan semua. Wass.wr.wb
July 3rd, 2009 at 8:25 am
untuk saudara Rizal, terimakasih atas komentarnya. Semoga dengan pendapat yang berbeda tentang nabi khidir tidak mengurangi ibadah dan iman kita kepada Allah dan nabi-nabi-nya. AMIN
July 14th, 2009 at 4:00 pm
saudaraku terimakasih atas wacana yg diberikan kpd kita semua,tp ingat bahwa ALLAH adalah sang penguasa dan menciptakan hidup kpdNYa lah kita berserah diri, ada beberap hal dmn sesuatu memang tdk dinaskan oleh ALLAH karena keterkaitannya dg rijalul ghaibnya, maka ALLAH dg segala keberhakkannya akan kesombongan tdk menceritakan kpdmu sekalian, saya pernah mendapatkan pelajaran bahwa ALLAH telah menciptakan dunia dan seisinya tanpa harus seijin nabi apalgi manusia biasa seperti kita maka ketika ALLAH memerintahkan seorang nabi jangan pernah ceritakan tentang nabi khidir maka diamlah para nabi. kecuali aku yg memerintahkan dia utk datang dan membibingnya janngankan pengetahuan kita tentang nabiyullah khidir yg terbatas, tahukah anda bahwa dr 99 asma ALLAH yg kita ketahui masih ada 9 lg nama ato asma ALLAH yg dirahasiakan dan yg berhak tau adalah hanya para nabi dan waliyullahNYA, maka sekali lg utk masalah keimanan kita tdk lah usah berdalil ini salah dan ini benar
karena yg maha tau adalah ALLAH semata, ada yg tersirat dan ada yg tersurat, yg penting kita meyakini bahwa dg ISLAM kita aka dibawa kedalam nikmat, mhn maaf kalo tulisan saya dangkal tentang agama dan sampai sekarang sayapun masih belajar, dan berharap bimbingan dr semua org2 yg lebih pintar tentang agama,
aslamualaikum WR WB
July 17th, 2009 at 9:47 am
Terimakasih komentar dari saudara Taufik… Memang rahasia berada di tangan Allah. Untuk sekarang, kita cukup berpegang kepada Al-Qur’an dan As Sunah… Selebihnya adalah hak preogatif Allah… AMIN
October 28th, 2009 at 11:07 am
Maaf akhi/ukhti, soal ini ada baiknya didiskusikan dengan para sufi/pengamal tasawuf, pandangan mereka mgkin lebih jernih dlm hal tarikh islam dll, apalg yg berkaitan dengan intisari ajaran Muhammad Saw. Keempat Imam Mazhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hambali) yg qta kenal hingga saat ini juga para pengamal tasawuf/sufi/ahli thariqah loh….!!!!
October 29th, 2009 at 10:56 am
Terimakasih atas komentarnya. Jika ada pandangan lain tentang masalah ini silahkan dikemukakan
December 3rd, 2009 at 9:44 am
Dalam QS.Al-Anbiya’: 34, Allah SWT menyebutkan “golongan Manusia”. Karena yang Ghaib adalah perkara Allah SWT dan Al Qur’an tidak menerangkan secara rinci karena Al Qur’an memuat garis-garis besar dan perumpamaan-perumpamaan. Demikian juga dalam Hadits tidak memerinci perkara ghaib karena perkara ghaib urusan Allah.
Cukup kita mengimani bahwa Allah SWT memiliki kerajaan 7 lapis langit dan bumi beserta isinya, dan DIA cukup mengatakan Kun Fayakun, jadi kata Allah maka jadilah dan seandainya jari telunjuk dicelupkan kedalam air laut, maka ilmu manusia hanyalah sebanyak air yang melekat di jari telunjuk itu sedangkan air yang tersisa di lautan itu adalah ilmu Allah.
Demikian perkara (Nabi) Khidir masih hidup atau tidak hanya Allah yang Maha Mengetahui dan jangan kita menduga-duga; karena akan banyak dugaan antara lain boleh jadi (Nabi) Khidir secara jasad adalah manusia tetapi ruh bukan dari golongan manusia. Wallahua’lam bissawab…
December 7th, 2009 at 10:38 am
semoga kita dapat pengajaran dari cerita ini..
December 28th, 2009 at 8:54 am
iya.. cukup kita mempercayai bahwa nabi khidir adalah seorang hamba allah yang saleh. meski kadang masih jadi perdebatan bahwa beliau nabi/rasul atau hanya orang saleh saja. terimakasih atas komentarnya
December 28th, 2009 at 8:58 am
amin……
March 7th, 2010 at 10:52 pm
Kalau ada yang mengatakan nabi khidir masih hidup, mana dalil/dasarnya?
Kalau mengatakan yang ghaib, hanya ALLAH yang tahu. Jangan buat teori semaunya, nanti malah membuka pintu masuk para setan.
March 9th, 2010 at 2:06 am
nabi Khidir adalah simbol hati, hati yang lurus kepada Allah, hati yang patuh kepada Allah, bila kita memiliki hati yang patuh dan lurus kepada Allah, kisah musa dan khidir dalam Al-qur’an merupakan nasehat yang baik pada diri kita. Apabila kita sebagai seorang pencari kebenaran, maka nasehat khidir kepada musa akan berulang menjadi suatu petunjuk pada diri kita. Bagi yang faham maka seakan-akan nasehat itu hidup dan menjadi suatu bentuk sifat yang nyata. seakan-akan orang yang faham itu melihat khidir tetapi sesungguhnya ia melihat suatu bentuk petunjuk dari Allah. Allah adalah maha ghaib, insya Allah dengan hati yang bersih dan ikhlas maka kita bisa di beri rahasia.